Home » » HAKIKAT BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

HAKIKAT BELAJAR DAN PEMBELAJARAN


A.    HAKIKAT BELAJAR

1.      Pendahuluan
Kata ‘belajar’ tidak asing lagi bagi kita. Barangkali sudah ribuan kali kita mendengarnya, mungkin kata itu mendatangkan nuansa kegembiraan ke diri, tetapi juga ada kemungkinan membawa kemurungan, kebosanan , ketegangan dan sebagainyaseribu rasa. Namun demikian, pernahkan kita mempertanyakan ke diri kita, apa sebenarnya makna kata belajar itu ? Mengapa selama hidup kita disarankan untuk belajar , belajar dan belajar? Apakah hakekat belajar semasa kanak-kanak sama dengan saat dewasa? Apakah semua manusia melakukan hal belajar? A dakah perbedaan antara belajar dan berlatih? Apa yang dihasilkan dari
belajar; Apakah belajar membuat orang jadi pin tar, jadi baik, dan atau jadi bijak? Dst.
Pada tulisan ini, kita akan membahasnya secara umum, supaya sedikit bertambah wawasan kita, tetapi juga tidak pusing kepala karena seakan memperumit diri dengan sejuta tanya. Oleh karena itu, bahasan kita kelompokkan dalam beberapa subbagian, yaitu :
 (1) Pendahuluan ini,
 (2) Belajar adalah panggilan hidup manusia sepanjang hayatnya
 (3) Instrumen belajar pada Manusia
 (4) Belajar punya kadar
 (5) Pembelajaran dimulai di keluarga .

2.      Belajar adalah panggilan hidup
Secara hakiki, sebagai orang beriman, kita meyakini bahwa kehadiran kita di dunia ini atas kehendak Sang Pencipta, dengan dibekali sejumlah potensi (lengkap) untuk menjadi seseorang yang dimaksudkan olehNya. Artinya, bila kita meminjam istilah teknik, cetak biru – ’blue print’ diri kita, ada pada Sang Pencipta; dan segala potensi serta perlengkapan yang diperlukan untuk menjadi ’yang tercetak di blue print tersebut’ telah dibekalkan dalam diri kita. Selanjutnya, tugas kitalah membangun diri ke arah tersebut. Tentu saja, kita perlu mengenali-mencari tahu apa sih yang dibekalkan kepada kita masing-masing; seperti apakah
blue-print nya; perlengkapan apa saja yang diperlukan untuk membangunnya? Hal-hal apa yang masih perlu ditambahkan, dari mana bisa diperoleh, bagaimana mendapatkannya? Mengapa disainnya demikian, untuk keperluan apa, untuk kepentingan siapa, dst.
Upaya ’mengenali dan mencari tahu’ ini menjadi amat penting, sebab merupakan prasarat untuk upaya ’menjadi’ orang yang sesuai dengan yang dimaksudkan Pencipta. Menurut saya, ’upaya mengenali dan mencari tahu’ ini merupakan dasar hakikinya belajar, Seyogyanya upaya itu berlangsung terus menerus sepanjang hidup kita, sambil memonitor diri apakah sudah dalam ’track’ yang sesuai blue print, apakah ada kesalahan yang kita bangun, bagaimana menyesuaikannya kembali, dst. Secara logika kita perlu senantiasa mengkonsultasikannya dengan Perancangnya.
Jadi, belajar adalah panggilan hidup kita, bukan karena disuruh orang tua/guru/dosen atau siapa pun, tetapi merupakan konsekwensi logik dari kehidupan . Tanpa belajar, kita tidak dapat melakukan ’proses menjadi’ diri kita, apalagi diri kita sesuai fitrah, sesuai kehendak-Nya, yang saya yakin baik adanya.

3.      Instrumen belajar pada manusia
Manusia diciptakan dengan sungguh menakjubkan. Apabila kita mencermati tubuh manusia, coba Anda cermati tubuh Anda, sungguh luar biasa. Betapa lengkap dan canggihnya instrumen yang dibekalkan dalam tubuh manusia agar bisa belajar. Instrumen untuk menangkap informasi, untuk mengolahnya, untuk menanggapinya, untuk memberi respon, dsb.
3.1  Instrumen menangkap informasi
Instrumen untuk menangkap informasi yang kita miliki, sungguh kompleks, baik ragam, mekanisme, maupun fungsinya. Kita memiliki sekurangnya panca indera, indra penglihatan, pendengaran , penciuman, pengecapan dan pe rabaan. Mari kita melakukan telaahan sepintas pada kelima indra tersebut Indra penglihatan merupakan indra utama yang menolong kita me ngenali dan memahami dunia sekeliling kita.
Indra pendengaran tidak kalah dahsyat rancangannya. Alat pendengaran manusia relatif kecil dengan kepekaan yang relatif kurang, dibandingkan beberapa machluk lainnya ( misalnya gajah, anjing,dst). Akan tetapi kita dapat menangkap nuansa perbedaan ragam suara yang ada di sekeliling kita dengan begitu rinci. Kita bersyukur, dengan keterbatasan kepekaan tersebut. Tidak kalah mencengangkan adalah indra penciuman , yang sanggup memberi dorongan untuk bertindak. Itu sebabnya ketika kita serius berkonsentrasi belajar, selalu mungkin terganggu hanya oleh harumnya bau makanan yang singgah dihidung, dan bisa membuat kita bertindak meninggalkan belajar dan pergi mencari arah datangnya keharuman tersebut; atau sebaliknya kala kita mencium bau busuk.
Indra peraba, dengan organ kulit sebagai agen utamanya, juga luar biasa perancangan Nya. Kulit banyak memberi informasi tentang keberadaan tubuh seseorang. Misalnya, adanya gangguan penyakit, dapat dikenali melalui warna warni yang sesuai dengan penyakitya., ataupun melalui sinyal-sinyal lain.
3.2  Instrumen pengolah informasi
Kita baru saja selesai membahas instrumen untukmenangkap informasi, sekarang kita coba membahas instrumen pengolah informasi tersebut yaitu otak dengan segala perlengkapannya. Pertama, otak dibentengi dengan suatu ’kubah’ yang amat kokoh, kuat , nyaris tidak bisa ditembus, tertutup rapat dari berbagai gangguan dari luar; Padahal, didalam otak inilah seluruh pengetahuan pemiliknya tentang dunia luar. Mahasiswa kedokteran mungkin hafal bahwa otak ini dibungkus 3 selaput pembugkus. Otak yang nampak bergulunggulung, dengan lanskap melekuk berkelok-kelok, dilintasi banyak garis merah dan biru - saluran vital darah. Tampilannya kelihatan lunak dan putih. Otak tidak memiliki se nsasi sentuhan atau nyeri, tetapi dengan rangsangan elektrik di area tertentu, sensasinya akan dirasakan di bagian tubuh lain yang berhubungan dengan area otak tersebut.
3.3  Instrumen untuk merespon
Pikiran saja tidak cukup, kita membutuhkan tubuh yang mau bekerja sama dengan pikiran untuk menjalankan respons pikiran. Tubuh yang sehat, memiliki saluran-saluran dari otak ke seluruh bagian tubuh, yang berfungsi baik; tetapi untuk bisa mengexpresikan diri dan berkomunikasi dengan lingkungan, tubuh masih membutuhkan komitmen dari sel-sel satuan untuk mau melakukan kehendak otak. Bila tidak demikian, timbul kerancuan. Tentu saja ada gerak lain yang bersifat refleksif, tetapi tanpa tujuan.

4.      Belajar punya kadar dan kualitas
Setelah kita memahami bahwasanya belajar adalah panggilan hidup, telah mengenali pula instrumen belajar yang dibekalkan di tubuh kita, kini kita telaah lebih jauh makna ’belajar ’ itu sendiri, apakah semua proses otak adalah ’belajar’, apa bedanya dengan latihan. Apa pula yang dihasilkan oleh proses belajar.

5.      Pembelajaran dimulai di keluarga
Pada hakekatnya, pertumbuhan dan perkembangan manusia, merupakan hasil interaksi antara apa yang ia bawa sejak lahir (bakat, potensi) dengan apa yang ia peroleh dari tanggapannya terhadap lingkungan, yang seyogyanya terus menerus dimutahirkan ( ‘up-dated’). Kebanyakkan dari apa yang kita miliki saat ini, dasar (basic) nya merupakan hasil perolehan belajar kita di usia Balita (Fulghum, R, 1994).Bila demikian halnya, maka institusi pertama dan utama dalam hal pembelajaran adalah keluarga.. Tanggungjawab pembelajaran anak-anak, sebelum mereka bisa mandiri adalah keluarga. Sekolah bisa menambahkan, melengkapi, tetapi tidak bisa menggantikan peran keluarga. Setelah anak tersebut akil-balik, maka mereka sudah mulai bisa bertanggung jawab atas upaya pembelajaran dirinya. Mahasiswa seyogyanya telah mulai dewasa, sehingga tanggung jawab pembelajarannya ada pada mahasiswa sendiri.
Fihak lain, orang tua, dosen, teman hanya bisa memberikan pendampingan dalam upaya pembelajaran tersebut. Namun pada kenyataannya banyak keluarga yang belum tuntas mengantar anak-anaknya untuk bisa bertanggung jawab atas pembelajaran dirinya. Banyak orang, termasuk mahasiswa bahkan dosen yang belum sepenuhnya memiliki skill untuk belajar menjadi, banyak pula yang belum siap untuk be lajar dan masih canggung dalam belajar tentang.. Pelatihan Basic study skill merupakan salah satu upaya untuk melengkapi kita masingmasing dengan skill yang diperlukan. Asumsinya Anda telah memiliki sedikit modal untuk belajar menjadi, kemudian belajar skill untuk keperluan belajar tentang. Harapan yang tersirat setelah paham pengetahuan akan skill tersebut, Anda mau mempraktekkannya. Dengan begitu, Anda akan memiliki skill tersebut. Dengan kelengkapan lainnya, sebagai hasil belajar tadi, Anda akan gemar belajar, lebih terarah lalu Anda akan semakin mahir dan lancar belajar menjadi diri Anda sebagaimana dimaksudkan Sang Pencipta dalam penciptaan Anda.
Sebelum kita menutup bagian pertama ini, kiranya kita dapat selalu diingatkan bahwa jalannya pembelajaran seyogyannya bermula dari kebijaksanaan hakiki (wisdom) yang merupakan ranah spiritual, berlanjut pada pemahaman (understanding), yang bisa kita peroleh melalui memaknakan penginderaan kita dari karya Sang Pencipta, barulah kita mendapatkan pengetahuan ( knowledge).

B.     HAKIKAT PEMBELAJARAN
Istilah pembelajaran berhubungan erat dengan pengertian belajar dan mengajar. Belajar, mengajar dan pembelajaran terjadi bersama-sama. Belajar dapat terjadi tanpa guru atau tanpa kegiatan mengajar dan pembelajaran formal lain. Sedangkan mengajar meliputi segala hal yang guru lakukan di dalam kelas yang pada dasarnya mengatakan apa yang dilakukan guru agar proses belajar mengajar berjalan lancar,bermoral dan membuat siswa merasa nyaman merupakan bagian dari aktivitas mengajar, juga secara khusus mencoba dan berusaha untuk mengimplementasikan kurikulum dalam kelas. Sementara itu pembelajaran adalah suatu usaha yang sengaja melibatkan dan menggunakan pengetahuan profesional yang dimiliki guru untuk mencapai tujuan kurikulum.
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku di manapun dan kapanpun.

1.      Teori Belajar Dalam Pembelajaran
a.       Teori Behaviorisme
Behaviorisme merupakan salah satu pendekatan untuk memahami perilaku individu. Behaviorisme memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu.
b.      Teori Cognitive Gestalt-Filed
Teori kognitif dikembangkan oleh para ahli psikologi kognitif. Menurut teori ini, bahwa yang utama pada kehidupan manusia adalah mengetahui (knowing) dan bukan respons. _Suatu konsep yang penting dalam psikologi Gestalt adalah tentang “insight”, yaitu pengamatan dan pemahaman mendadak terhadap hubungan-hubungan antar bagian-bagian dalam suatu situasi permasalahan.
Dalam perspektif psikologi kognitif, belajar pada asasnya adalah peristiwa mental. Rumpun psikologi Gestalt bersifat molar, yaitu menekankan keseluruhan yang terpadu, alam kehidupan manusia dan perilaku manusia selalu merupakan suatu keseluruhan, suatu keterpaduan.



2.      Implikasi Prinsip Belajar Dalam Pembelajaran
1)      Prinsip Motivasi (Motivation)
Tujuan dalam belajar diperlukan untuk suatu proses yang terarah. Motivasi adalah suatu kondisi dari pelajar untuk memprakarsai kegiatan, mengatur arah kegiatan itu dan memelihara kesungguhan. Berkenaan dengan motivasi ini ada beberapa prinsip yang seyogianya kita perhatikan.
a.       Individu bukan hanya didorong oleh kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan biologi, soaial dan emosional. Tetapi disamping itu ia dapat diberi dorongan untuk mencapai sesuatu yang lebih dari yang dimiliki saat ini.
b.      Pengetahuan tentang kemajuan yang dicapai dalam memenuhi tujuan mendorong terjadinya peningkatan usaha.
c.       Dorongan yang mengatur perilaku tidak selalu jelas bagi para siswa. Contohnya seorang murid yang mengharapkan bantuan dari gurunya bisa berubah lebih dari itu, karena kebutuhan emosi terpenuhi daripada karena keinginan untuk mencapai seauatu.
d.      Motivasi dipengaruhi oleh unsur-unsur kepribadian seperti rasa rendah diri, atau keyakinan diri. Seorang anak yang temasuk pandai atau kurang juga bisa menghadapi masalah.
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

Random Post

Test Footer

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Said Site - All Rights Reserved
Responsive by Mas Yadi Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger